Embriologi dan Reproduksi

Embriologi Dan Reproduksi

BAB  I

REPRODUKSI

1.1 REPRODUKSI

Reproduksi, adalah naluri setiap organisme untuk beranak-pinak. Ciri setiap makhluk hidup, ialah umurnya terbatas, dan pada suatu ketika akan mati. Oleh karena itu perlu adanya regenerasi / membentuk individu baru untuk menggantikan individu yang mati. Bila tidak ada pergantian generasi, populasi suatu spesies akan susut lalu punah.

Untuk reproduksi perlu ada perkawinan. Setelah kawin, terbentuk anak. Anak tumbuh jadi dewasa. Dalam tingkat dewasa inilah setiap makhluk mampu bereproduksi lagi untuk membina angkatan baru. Setelah itu makhluk akan jadi tua, lalu mati. Daur kehidupan dapat dilihat dibawah ini :

Mati

Tua                                                    Tua

Dewasa                                              Dewasa

Kawin

Lahir

Anak                                                 Anak

1.1.1 ARTI DAN TUJUAN

Reproduksi atau pembiakan ialah memperbanyak diri atau berketurunan. Bertujuan mempertahankan kehadiran spesies di alam. Individu di kalangan penduduk suatu spesies suatu saat akan mati, sebagai ciri kehidupan. Bila tidak berkembangbiak makhluk hidup akan susut, dan jika terus begitu akan punah.

Jumlah anak harus lebih banyak dari induknya, untuk menjaga kemungkinan banyaknya yang gagal atau mati sebelum dewasa. Kian besar bahaya yang bakal dihadapi anak mencapai dewasa, kian banyak anak yang dilahirkan. Contoh : anak Rodentia yang banyak sekali pergolakan hidupnya; marmot, kelinci, tikus, mencit, bajing. Baik dalam mencari makan, bersarang dan berlindung terhadap bencana alam, mereka bersaing hebat; termasuk dengan manusia. Mereka beranak banyak dan frekuensi beranak pun tinggi.( Wildan , 1982).

1.1.2 CARA REPRODUKSI

Ada 2 macam cara bereproduksi yaitu secara seksual dan aseksual. Yang aseksual, reproduksi tanpa kawin; sedang yang seksual, reproduksi dengan kawin.  Reproduksi aseksual ialah berupa : pembelahan sederhana, pembentukan spora, bertunas,  autonomi (regenerasi ) dan partenogenesis. Pembelahan sederhana pada makhluk uniselluler: bakteri dan amoeba. Pembelahan dari 1 sel induk menjadi 2, 2 menjadi 4 , dan seterusnya. Pembelahan ini termasuk amitosis, karena tanpa menempuh tahap-tahap mitosis.

Pembentukan spora terdapat pada tumbuhan dan Protozoa. Sedang bertunas terdapat pada tumbuhan, dan pada hewan Coelenterata dan Tunicata. Autonomi terdapat pada Vermes, terutama Platyhelminthes dan anellida. Tubuhnya yang terdiri dari ruas-ruas dapat lepas dan tumbuh menjadi individu baru. Partenogenesis, perkembangbiakan yang ditandai dengan membelahnya sel telur tanpa memerlukan spermatozoa. Contoh : Lebah. Partenogenesis dapat pula dihasilkan dengan memberi stimulasi pada sel telur. Stimulan yang dipergunakan dapaat berupa kocokan, panas, asam organic encer, larutan hipertonik dan jarum yang ditusukkan pada inti sel telur.

Reproduksi seksual dilengkapi dengan proses perkawinan antara dua jenis kelamin, jantan dan betina. Masing-masing jenis kelamin menghasilkan sel gamet (sel benih). Gamet itulah yang mengalami pembuahan (peleburan) yang akhirnya menjadi zigot, lalu mengalami perkembangan embriologis sehingga akhirnya menjadi individu baru.  Pembuahan dapat dibedakan menjadi :

  1. Pembuahan di luar tubuh . Ovum dan spermatozoa masing-masing dilepaskan secara bebas oleh  betina dan pejantan ke dalam air dan fertilisasi terjadi di dalam air. Contoh : Pisces dan Amphibia.
  2. Pembuahan di dalam tubuh. Proses pembuahan terjadi di dalam tubuh betina. Spermatozoa ditumpahkan ke dalam alat kelamin betina dengan perantaraan kopulasi. Contoh : Mamalia

1.2 MACAM PERKEMBANGBIAKAN SEKSUAL.

Perkembangbiakan seksual dapat dibedakan menjadi beberapa jenis :

  1. Ovipharous. Perkembangbiakan seksual yang ditandai betina dan jantan masing-masing melepaskan sel telur dan spermatozoa di luar tubuh dan fertilisasi terjadi di luar tubuh. Ciri-ciri lain sel telur berukuran besar karena banyak mengandung kuning telur, jumlah sel telur banyak dan sel telur di luar tubuh sangat permeable terhadap spermatozoa. Contoh : Pisces dan Amphibia.
  2. Ovovivipharous. Perkembangbiakan seksual yang ditandai betina melepaskan sel telur dari ovarium ke dalam saluran reproduksi dan jantan memasukkan spermatozoa ke dalam saluran betina dengan cara kopulasi. Fertilisasi terjadi di dalam alat kelamin betina dan individu yang terbentuk selama kurang lebih 24 jam berkembang dalam alat kelamin betina. Pertumbuhan selanjutnya dari embrio tersebut terjadi di luar tubuh. Contoh : Unggas dan Reptilia.
  3. Vivipharous. Perkembangbiakan seksual yang ditandai sama seperti pada ovovivipharous hanya individu yang terbentuk itu berkembang terus dalam alat kelamin betina sampai dilahirkan. Perbedaan lain pada hewan vivipharous memiliki sel telur lebih kecil dengan kuning telur yang lebih sedikit dibanding dengan ovovivipharous. Contoh : Mamalia.

1.3 PEMBELAHAN SEL

Daerah terjadinya pembelahan sel dibagi atas :

  1. Inti, proses pembelahan yang berlangsung pada inti disebut karyogenesis.
  2. Sitoplasma, proses pembelahan yang berlangung pada sitoplasma disebut cytokenesis.

Karyokenesis mendahului cytokenesis. Bahan dalam inti lebih dulu mengalami penggandaan , kemudian membelah menjadi dua dan masing-masing belahan menyusun inti sel anak. Setelah inti mengalami pembelahan, diiringi dengan pembelahan sitoplasma bersama membran sel, sehingga terbentuk dua sel anak yang sempurna. Bahan sitoplasma, seperti organel mengalami duplikasi dan pembelahan lebih dahulu, sebelum terjadinya cytokenesis. Mitokondria dapat mengganda autonom tanpa bergantung langsung kepada aktivitas inti. Ini disebabkan karena organel ini mengandung ADN sendiri, sehingga mampu melakukan trankripsi dan replikasi untuk membentuk bahan mitokondria baru. Inti mengandung bahan genetis, melalui pembelahan bahan genetis ini akan dimiliki juga oleh sel anak. Dengan demikian sel anak mewarisi sifat-sifat dari induknya.

Persiapan Pembelahan

Pada jaringan yang secara reguler atau berkala mengalami pembelahan, ada fase yang digunakan untuk persiapan, disebut interfase. Fase ini meningkat secara biokemis : metabolisme meningkat, terbentuk energi ATP, protein, nukleotida, dan terjadi pila kegiatan mensintesis bahan protoplasma dan organel. Serat gelendong tempat menggantung kromosom waktu karyokinesis, yang terjadi dari mikrotubulus dan mikrofelamen, disintesa oleh sentriol dari protein.

1.3.1 MACAM PEMBELAHAN

Menurut letak dan sifatnya , pembelahan dibedakan menjadi 2 macam, yaitu :

  1. Mitosis, adalah terbentuknya benang-benang kromosom dalam inti. Pembelahan mitosis ini berlangsung pada semua jaringan tubuh, baik jaringan somatif maupun germinatif. Karyotipe yang 2 n (diploid) pada sel induk akan tetap 2 n pada sel anak.
  2. Meiosis, adalah pembelahan reduksi. Terjadi pada sel germinatif, yaitu sel induk benih. Meiosis didahului oleh mitosis, untuk melipargandakan jumlah sel induk. Karyotipe sel induk 2n, pada sel anak akan direduksi menjadi n (haploid). Berarti kromosom sel induk direduksi menjadi separo pada sel anak.

Pembelahan meiosis dan mitosis mempunyai fase-fase yang sama yaitu :

    1. Profase,
    2. Metafase,
    3. Anafase,
    4. Telofase,

Tetapi untuk meiosis terjadi dua kali pembelahan, masing-masing dengan 4 fase yang tersebut di atas. Sehingga pada akhir pembelahan sel anak mengandung hanya separo kromosom sel induk. Pada meiosis tahap kedua kromosom tdak lagi mengganda menjadi dua, dan pada anafase tetap terjadi pemisahan kromosom anak ke masing-masing kutub berseberangan.

Antara meiosis pertama dan meiosis kedua ada masa istirahat, yang disebut interkinesis. Pada mamalia jantan masa istirahat ini sangat singkat, hanya beberapa menit (beberapa jam); sedangkan pada mamalia betina masa istirahat ini sangat lama, bias sampai berpuluh-puluh tahun

Fase-fase Pembelahan Mitosis

1. Profase

Kromatin berubah manjadi kromosom dengan jalan berpilin-pilinnya kromatin sehingga memendek dan tebal. Kromosom yang terbentuk sudah rangkap dua, yang disebut kromatid (kromosom anak). Nukleolus mula-mula membesar, kemudian menghilang. Sentrosom membelah menjadi dua, menuju kutub masing-masing. Tiap sentrosom terdiri dari sepasang sentriol. Sentriol membentuk serat gelendong, dari kutub ke kutub. Serat gelendong terdiri dari mikrotubuli, di antaranya terdapat mikrofilamen. Selaput inti menipis dan akhirnya menghilang.

2. Metafase

Serat gelendong terbentuk sempurna antara kutub, kromosom menggantung pada serat gelendong  melewati sentromer, dan semua bergerak pada bidang equator.

3. Anafase

Sentromer mengganda, sehingga setiap kromatid memiliki sentromer sendiri-sendiri. Kromatid yang berasal  dari satu kromosom kemudian berpisah dan pindah ke kutub berseberangan. Sementara sel sendiri memanjang menurut serat gelendong.

4. Telofase

Selaput inti terbentuk mengelilingi kromatid di sekitar kutub, sentriol yang sepasang menempatkan diri di sebelah luar selaput inti. Kromosom anak melonggar pilinannya, sehingga manjadi kromatin, bersamaan dengan kejadian tersebut nukleolus muncul.

Fase-fase Pembelahan Meiosis

Pembelahan meiosis terdiri dari 2 tahap yaitu meiosis pertama dan meiosis kedua, masing-masing memiliki 4 fase yaitu profase, metafase, anafase dan telofase. Profase pada meiosis pertama masih terjadi 5 tahapan lagi ,yaitu leptoten, zigoten, pakiten, diploten dan diakinesis. Pada hewan betina umur fetus 5 bulan pembelahan berhenti pada fase profase tahan diploten. Di tahap tersebut kita temukan bentukan kromosom seperti sikat (lump brush). Kemudian pembelahan dilanjutkan pada waktu hewan tersebut dewasa kelamin.

BAB II

SIKLUS REPRODUKSI

Siklus reproduksi adalah rangkaian semua kejadian biologik kelamin yang berlangsung secara berkesinambungan hingga terlahir generasi baru dari suatu makhluk hidup. Proses-proses biologik yang dimaksud dalam melengkapi arti siklus reproduksi diatas meliputi proses reproduksi dalam tubuh makhluk jantan dan betina, sejak makhluk tersebut terlahir sampai dapat melahirkan lagi. Pembicaraan siklus reproduksi dapat dibagi menjadi : pubertas, musim kelamin, siklus berahi, fertilisasi, kebuntingan dan kelahiran.

Pubertas

Istirahat kelamin           Lahir          Ovarium aktif

Alam

Birahi                   kawin                               Fertilisasi            Bunting

Buatan

Estrus

Proestrus    Metestrus                                          Abortus

Diestrus

2.1 PUBERTAS

Pubertas atau dewasa kelamin adalah periode dalam kehidupan makhluk jantan atau betina dimana proses-proses reproduksi mulai terjadi, yang ditandai oleh kemampuan untuk pertama kalinya memproduksi benih.

Semua ternak bisa mencapai dewasa kelamin sebelum dewasa tubuh tercapai.  Keterangan ini memberi petunjuk agar kita tidak mengawinkan ternak betina pada waktu munculnya tanda-tanda pubertas yang pertama, karena jika dikawinkan, maka hewan betina akan mengandung dengan kondisi badan yang masih dalam proses pertumbuhan, dengan demikian tubuhnya harus menyediakan makanan untuk proses pertumbuhan dan untuk pertumbuhan anak yang dikandungnya.

Tercapainya pubertas bagi setiap individu hewan agak berbeda karena pertumbuhan tubuh dan kelamin sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu : keturunan, iklim, sosial dan makanan.

Faktor keturunan sangat menentukan saat tercapainya pubertas. Misalnya : Sapi ongole  pada umumnya lebih lambat mencapai pubertas daripada sapi F.H. Sapi F.H mencapai pubertas umur 8 sampai 12 bulan, sedangkan sapi ongole pada umur 12-18 bulan. Umur dan kondisi makanan juga merupakan faktor yang penting dalam menentukan umur pubertas. Misal : sapi Madura mencapai dewasa kelamin pada umur 11 samapai 12 bulan, dengan berat badan kurang lebih 125 kg, sedangkan sapi Madura yang digemukkan di Panarukan dimana iklimnya agak sejuk dan  curah hujan lebih banyak dari pulau Madura, dapat mencapat pubertas sedikit lebih awal. Faktor sosial sangat mempengaruhi saat tercapainya pubertas. Adanya pejantan disekitar anak-anak sapi betina, mempercepat tercapainya saat pubertas; sedangkan sekumpulan hewan betina tanpa adanya pejantan mengalami keterlambatan untuk mencapai saat pubertas.

Tabel 2.1: Umur Ternak Pada Waktu Mencapai Pubertas 

Ternak Umur Pubertas Variasi
Sapi

Kuda

Domba

Kambing

Kerbau

Babi

12 bulan

18 bulan

8 bulan

8 bulan

24 bulan

6 bulan

6-24 bulan

10-24 bulan

4- 12 bulan

4-12 bulan

12-40 bulan

4-8 bulan

Sumber : Partodihardjo, 1987.

2.1.1 MUSIM KELAMIN

Musim kelamin adalah suatu musim dalam satu tahun dimana suatu jenis hewan menampakkan aktivitas perkawinan. Dalam periode satu musim, hewan betina jenis tertentu, baik yang telah dewasa maupun baru mencapai pubertas memperlihatkan gejala berahi. Pejantan-pejantannya, dengan bersemangat melayani kehendak ini. Dalam tradisi rimba pada saat inilah terjadi pertarungan-pertarungan sengit antara sesama pejantan. Jika musim kelamin telah lewat maka keadaan akan tenang kembali. Perkawinan ada dua macam, yaitu secara alam dan secara buatan. Waktu atau lamanya perkawinan tergantung dari spesies dapat dibedakan, menjadi : perkawinan singkat sekali, yaitu pada sapi, domba dan kerbau,  perkawinan singkat, yaitu pada kuda, babi, kucing dan perkawinan yang waktunya lama pada anjing. Tergantung pada banyaknya perkawinan dalam 1 fase birahi, yaitu satu kali, contoh pada sapi, kerbau, domba dan kambing; dua kali, contoh pada babi dan kuda; banyak kali, contoh pada anjing dan kucing.

Menurut dugaan, pada zaman prasejarah, semua jenis hewan mempunyai musim kelamin yang berbeda. Tetapi domestikasi merubah musim kelamin beberapa jenis hewan menjadi sangat pendek, atau bahkan tidak mengikuti pola musim sama sekali. Diantara beberapa jenis hewan ini ada yang berubah sehingga jarak antara berahi dengan berahi yang berikutnya menjadi hanya sebulan atau 3 minggu. Hewan –hewan tersebut adalah ternak yang dipelihara untuk maksud-maksud produksi makanan, yaitu : sapi, babi, domba, kambing, kerbau. Hewan-hewan yang tidak mengalami perubahan meskipun telah didomestikasikan oleh manusia, yaitu : anjing dan kucing.

Berdasarkan jarak antara berahi yang satu dengan berahi yang berikutnya, beberapa jenis hewan dapat digolongkan menjadi monoestrus, polyestrus dan polyestrus bermusim.

Golongan hewan yang mengalami monoestrus dalam satu tahun, misalnya : anjing, kucing, singa. Hewan-hewan betina golongan monoestrus berahinya tidak serentak, tetapi masih dapat digolongkan bermusim karena frekuensi kejadian berahi terlihat lebih sering dalam satu periode tertentu. Misalnya banyak kejadian perkawinan pada masa peralihan, dari musim kemarau ke musim penghujan. Golongan hewan yang mengalami polyestrus adalah golongan hewan yang menunjukkan gejala berahi beberapa kali dalam satu tahun. Misalnya : sapi, kerbau, babi, domba, kambing. Golongan hewan ini gejala berahi tidak mengikuti pola perubahan musim. Golongan hewan yang mengalami polyestrus bermusim adalah golongan hewan yang menunjukkan gejala berahi beberapa kali dalam satu musim kelamin, misalnya : kuda dan domba di daeah subtropik dan kutub.

Berahi dapat dibedakan pula menjadi : berahi normal pendek (12-24 jam) ditandai dengan gejala berahi secara klinis dan ada ovulasi, berahi normal panjang (1-5 hari). Berahi tenang, yaitu berahi tanpa ada gejala tetapi ada ovulasi. Berahi pendek (tidak normal) ditandai dengan gejala berahi pendek (1-3 jam) tetapi ada normal. Nimfomani adalah ada gejala berahi tetapi tidak ada ovulasi.

Peranan hormonal dalam musim kelamin, menurut penelitian perubahan hormonal dari domba menunjukkan bahwa rangsangan dari luar yang berupa memendeknya siang hari yang diterima indera mata dan diteruskan ke optik kiasma dalam hipotalamus. Selanjutnya hipotalamus melepaskan FSH-RH/ LH-RH ke hipotesa dan terjadilah aktivitas reproduksi.

2.1.2 SIKLUS BIRAHI

Siklus berahi adalah jarak antara berahi yang satu sampai pada berahi berikutnya. Sedangkan berahi adalah saat dimana hewan betina bersedia menerima pajantan untuk kopulasi. Kopulasi dapat menghasilkan kebuntingan dan selanjutnya dapat menghasilkan anak.

Pada hewan jantan, siklus berahi seperti yang terjadi pada hewan betina tidak ada. Pada umumnya pejantan selalu bersedia menerima betina untuk aktivitas reproduksi. Jika ada pejantan yang menolak untuk aktivitas reprodukai, berarti pejantan tersebut tidak normal, mengalami kelainan-kelainan atau terlalu tua, atau terlalu muda.

Dalam satu siklus berahi, betina menunjukkan perubahan-perubahan fisiologis dari alat kelamin. Adanya gejala-gejala yang nampak dalam satu siklus berahi terbagi menjadi  4 fase, yaitu proestrus, estrus, metestrus dan diestrus.

Proestrus adalah fase persiapan. Fase ini biasanya pendek, gejala yang terlihat berupa perubahan-perubahan tingkah laku dan perubahan pada alat kelamin bagian luar. Tingkah laku betina menjadi sedikti gelisah, memperdengarkan suara-suara yang tidak biasa terdengar. Alat kelamin betina mulai memperlihatkan tanda-tanda ada peningkatan peredaran darah  di daerah tersebut. Meskipun sudah menunjukkan gairah sex tetapi betina masih menolak pejantan. Perubahan yang terjadi pada alat kelamin bagian dalam adalah pada ovarium, tuba fallopii, uterus dan serviks. Pada ovarium terjadi pertumbuhan folikel tertier menjadi folikel de graaf. Tuba fallopii dan uterus mendapat vaskularisasi lebih banyak daripada biasanya. Kelenjar-kelenjar endometrium tumbuh memanjang, serviknya mulai merelax dan kelenjar-kelenjar lendir dalam lumen serviks mulai memproduksi lendir.

Estrus adalah fase yang terpenting dalam siklus berahi, karena pada fase ini betina sudah mau menerima pejantan untuk proses kawin atau kopulasi. Tanda-tanda fase estrus untuk jenis hewan berbeda, tetapi pada umunya mereka memperlihatkan tanda-tanda gelisah, nafsu makan berkurang, menghampiri pejantan dan tidak lari bila pejantan menungganginya. Perubahan-perubahan pada alat kelamin sebelah dalam adalah terjadinya ovulasi pada ovarium, endometrium semakin giat memperkembangkan kelenjar-kelenjar susu uterus, servik mengeluarkan lendir yang lebih banyak , lendirnya bersifat bening, terang tembus dan dapat mengalir ke vagina dan vulva, sehingga terlihat menggantung pada vulva. Vagina dan vulva pada beberapa jenis hewan tidak memperlihatkan banyak perubahan, hanya pada dara terjadi pembengkakan vulva serta perubahan vaskularisasi hingga warnanya agak kemerah-merahan dan selalu terlihat pada saat estrus. Perubahan-perubahan ini pada hewan betina yang sudah beberapa kali beranak, sering terlihat tidak nyata.

Metestrus adalah fase dalam siklus berahi, yang terjadi segera setelah estrus selesai. Gajala-gejala dari luar tidak nampak, tetapi perubahan alat-alat reproduksi bagian dalam, terutama pada ovarium, endometrim dan servik. Pada ovarium terjadi pembentukan corpus hemorrhagicum di tempat folikel de graf yang baru melepaskan ovum. Ovum yang terlepas sudah berada di tuba fallopii menuju ke uterus. Kelenjar-kelenjar endometrium lebih panjang hingga di beberapa tempat telah mulai berkelok-kelok. Servik mulai menutup, lendir servik dari cair menjadi kental.

Diestrus adalah fase dalam siklus berahi yang ditandai dengan tidak adanya kebuntingan, tidak ada aktivitas kelamin dan hewan menjadi tenang. Dalam periode awal diestrus kelenjar endometrium mengalami pertumbuhan, tetapi pada pertengahan diestrus kelenjar-kelenjar endometrium berdegenerasi. Pada fase ini, corpus hemorrhagicum mengkerut karena di bawah lapisan tersbut tumbuh sel-sel kuning yang disebut luteum.

BAB III

ANATOMI  DAN FISIOLOGI REPRODUKSI

3.1  Avertebrata, misal : cacing tanah (Lumbricus rubellus)

Gambar 3.1: Anatomi reproduksi cacing tanah (Lumbricus sp).

Alat reproduksi cacing tanah sangat sederhana dibanding dengan alat reproduksi unggas dan mamalia. Cacing tanah termasuk hewan hermaprodit, dalam satu tubuh terdapat 2 alat kelamin, yaitu jantan dan betina. Yang termasuk alat kelamin betina, yaitu: ovary, saluran telur dan lubang kelamin betina. Yang termasuk alat kelamin jantan, yaitu : testis, spermateka, saluran sperma, vesika seminalis dan lubang kelamin jantan.

Proses reproduksi cacing tanah dengan cara pertukaran sperma dari cacing yang satu ke cacing yang lainnya. Proses tersebut terselubungi oleh lendir yang dikeluarkan dari klitellum. Fertilisasi terjadi di luar tubuh cacing tanah. Setelah terjadi fertilisasi terbentuklah cocoon.

Gambar 3.2 : Kopulasi Cacing Tanah

Gambar 3.3: Cocoon Cacing Tanah

3.2. Vertebrata, misal : unggas dan mamalia

3.2.1. UNGGAS

3.2.1.1  UNGGAS JANTAN

Organ Reproduksi, unggas jantan terdiri dari sepasang testes dangan epididimis, dua vas deferens atau saluran sperma dan alat kopulatoris yang sama sekali tidak sama dengan penis pada mamalia, seperti gambar di bawah ini.

Unggas jantan tidak memiliki kelamin pelengkap, karena semen dari vas deferens sudah diencerkan dengan cairan dari badan-badan vascular yang terletak dekat ujujng posterior vas deferens. Testes unggas menetap di dalam rongga perut, tidak pernah turun ke crotum di bagian luar tubuh. Testes berbentuk kacang dan bergantung pada ke dua sisi columna vertebralis, tepatnya di bawah ujung anterior ginjal. Pada pejantan dewasa sebagian testes dikelilingi oleh selaput tipis dari kantong udara thoracalis posterior. Warna testes umumnya putih krem.  Berat testes pada pejantan yang aktif sekitar 15 – 20 gram, sedangkan tipe petelur berat testes berkisar 8 – 12 gram.

Vas deferens menghubungkan epididimis dengan cloaca, disebelah caudal diameternya membesar, dan waktu memasuki cloaca diameternya mencapai 3,5 mm, yang disebabkan oleh penebalan dindingnya. Vas deferens berfungsi mengangkut semen dari testes dan epididimis ke alat kopulatoris dan juga berfungsi sebagai reservoir semen. Alat kopulatoris ayam terdiri dari dua papillae dan organ kopulatoris rudimenter.

Perkembangan Kelamin dan Spermatogenesis . Testes tumbuh lambat selama 8 – 10 minggu, tetapi sesudah itu pertumbuhannya sangat cepat. Pada ayam leghorn atau bangsa petelur testes mencapau berat dewasa pada umur 24 – 26 minggu, sedangkan bangsa-bangsa yang besar memerlukan waktu 1 – 3 minggu lebih lama lagi. Spermatosit primer mulai muncul di dalam tubulus semiferus pada umur sekitar 6 minggu dan berlangsung terus sampai 2-3 minggu. Minggu ke 10, muncul spermatosit sekunder. Sedangkan spermatosit sekunder membelah diri menjadi spermtid umur 12 miggu yang selanjutnya mengalami metamorfosis menjadi spermatozoa. Spermatid dan spermatozoa terlihat dalam tubulus seminiferus minggu ke 20.

Walaupun spermatozoa di dalam semen dapat ditampung dari ayam pejantan berumur 10 –12 minggu, akan tetapi volume semen yang cukup dan fertilitas yang memuaskan baru dapat dicapai pada umur 22 – 26 minggu. Dalam hal ini banyak perbedaan untuk tiap individu.

Semen dan spermatozoa, mempunyai bentuk yang berbeda dengan sperma pada ternak yang lain. Spermatozoa mempunyai kepala yang silindris lonjong dan acrosoma yang runcing. Kepala bagian tengah dan ekor berukuran 15,4 mikron dan 80 mikron. Diameter kepala dan bagian tengah kira-kira 0,5 mikron. Berbeda dengan spermatozoa mamalia.

Semen segar biasanya bersifat agak basa. Rata-rata pH berkisar antara 7,0 –7,6. Plasma semen ayam lebih banyak mengandung asam glutamik dan glycin dan seidkit asam aspartik.   Lebih ari 89% ejakulat menunjukkan motilitas sperma yang progresif. Sperma unggas tetap mempunyai daya gerak dalam kisaran suhu  dari 2° sampai 43° C dan pergerakan meninggi dengan peninggian suhu. Walaupun sperma ayam tetap motil  in vitro pada suhu lemari es selama 3 – 5 hari atau sampai 24 hari, tetapi motilitas tidak ada hubungannya dengan kesanggupan membuahi, karena sperma akan kehilangan fertilitasnya dalam waktu hanya beberapa jam.

Pengaruh hormon, Androgen yang dihasilkan oleh testes mempengaruhi sifat-sifat kelamin sekunder, seperti berkokok dan sifat mencumbu dengan menari disekeliling ayam betina. Tingkatan sosial atau peck order pada ayam adalah atas pengaruh sekresi androgen.

Faktor-faktor yang mempengruhi produksi semen,  produksi sperma meninggi distimulir oleh periode siang hari, sedangkan berkurangnya periode siang hari mempunyai pengaruh yang berlawanan. Suhu lingkungan juga mempengaruhi produksi semen. Suhu antara 30° C membahayakan produksi sperma. Kekurangan makanan, kekurangan vitamin A dan vitamin E dapat menghambat produksi semen.

Gambar 3.4 : Alat reproduksi unggas jantan

3.2.1.2 UNGGAS BETINA

Organ Reproduksi. Unggas betina secara normal memiliki satu ovarium dan satu saluran telur, yaitu disebelah kiri. Selama inkubasi ovarium dan saluran telur sebelah kanan ikut berkembang tetapi berdegenerasi sewaktu menetas.

a.Ovarium

Terletak di ujung cranial ginjal dan agak kekiri dari garis tengah daerah sublumbal cavum abdominalis. Tergantung pada dinding dorsal abdomen oleh suatu lipatan peritoneum.

Pada ayam betina dewasa, ovarium merupakan suatu kelompok folikel dengan diameter rata-rata 35 mm. Setiap folikel berisi satu oocyte dan bertaut pada ovarium dengan suatu tangkai kecil. Ovarium pada ayam yang sedang bertelur umumnya mempunyai satu sampai lima folikel yang pecah.  Secara histologik, ovarium unggas pada prinsipnya sama dengan ovarium mamalia. Hanya satu perbedaan yang nyata yaitu folikel unggas tidak mempunyai antrum.

Ovulasi, secara normal ovulasi pada ayam terjadi 7 – 74  menit, rata-rata 30 menit, sesudah bertelur. Hampir semua kuning telur diovulasikan pada waktu pagi hari dan sangat sedikit sesudah jam 14.00.  Ciri folikel yang akan

diovulasikan ditandai dengan adanya stigma.

Gambar 3.5: Alat repoduksi dari unggas betina

Gambar 3.6; Skema proses vitelogenesis pada ayam betina

b.Oviduct

Saluran telur merupakan suatu corong panjang berkelok-kelok dan sebagian besar mencapai panjang 70 – 80 cm, diameter 1 – 5 cm, sedangkan ayam yang tidak bertelur panjang 10 – 15 cm dengan diameter 1 – 7 mm. Dinding saluran telur mempunyai vaskularisasi yang cukup dan bersifat elastis yang mempermudah perubahan diameter untuk menampung telur yang berkembang. Saluran telur terbagi menjadi  5 bagian, yaitu :

  1. Infundibulum, menampung kuning telur yang diovulasikan, kuning telur dan telur berada di infundibulum selama 30 menit, selama proses fertilisasi.
  2. Magnum, panjangnya 30-35 cm , terjadi deposit albumin dan air, telur berada di magnum sekitar 3 jam. Telur mengalami rotasi sehingga albumin berbentuk spiral.
  3. Isthmus, panjangnya 10 cm, terjadi pembentuk inner dan outer shell membrane dari telur yaitu ada pembentuk ovokeratin, telur berada di isthmus selama 1 jam.

4. Uterus, panjangnya 10 – 12 cm, telur berada di uterus selama 20 jam. Di uterus terjadi deposit calcium carbonate.

5.Vagina, panjangnya 12 cm, tempat terakhir telur untuk dikeluarkan. Telur mengalami rotasi 180 °.

c.Kontrol hormonal pada ovarium

Ovarium menghasilkan estrogen yang menstimulir pertumbuhan saluran telur dan melonggarkan tulang-tulang pelvis untuk mengeluarkan telur. Estrogen memodifiser bentuk dan pigmentasi bulu pada betina, mempertinggi kadar lemak, calcium dan fosfor di dalam darah untuk mempermudah deposisi zat-zat ini dalam perkembangan telur. Ovarium juga mensekresikan androgen dalam jumlah terbatas. Androgen bersama estrogen diperlukan antara lain untuk menggertak sekresi albumin.

Gambar 3.7: skema Kontrol Hormonal Pada Ayam Betina

d. Fertilisasi.

Pembuahan terjadi didalam saluran telur , fertilisasi terjadi segera sesudah kuning telur diovulasikan, biasanya dalam waktu 10 menit. Satu sperma membuahi telur, akan tetapi lebih dari satu sperma yang dapat memasuki membran vitelline dan menjadi spermatozoa supernumerary. Sperma yang tidak membuahi akan tersimpan dalam uterovaginal yaitu berupa lipatan-lipatan dipermukaan saluran telur. Sewaktu-waktu kuning telur diovulasikan dan memasuki infundibulum, dinding saluran telur melurus dan membebaskan sperma untuk menyerang kantong kecambah pada kuning telur.

Perkembangan embrional, cleavage yang pertama dari telur yang dibuahi umumnya berlangsung di dalam isthmus rata-rata 5 jam sesudah ovulasi. Cleavage kedua yang membentuk fase 4 sel terajdi 20 menit kemudian menjelang tiba di uterus dalam waktu 4 jam, ia telah mencapai fase 256 sel. Pada kebanyakan unggas, tingkatan gastrulasi sudah tercapai sebelum peletakan telur. Telur yang diletakkan sebelum selesai gastrulasi umumnya tidak menetas.

e. Siklus bertelur, jumlah telur yang dihasilkan oleh seekor ayam betina pada hari yang berturut-turut dinamakan satu siklus atau clutch.  Petelur yang tidak baik mempunyai siklus yang pendek, sedangkan petelur yang unggul mempunyai siklus 4 – 200 telur. Ayam betina dengan siklus yang panjang cenderung bertelur pada pagi hari dan interval dua oviposisi mendekati 24 jam. Ayam dengan siklus pendek mempunyai interval yang lebih lama. Perbedaan antara lama interval pengeluaran telur dengan waktu 24 jam disebut lag.

Peletakan telur, apabila telah sempurna telur akan memutar 180 ° dengan ujungnya yang tumpul menghadap kebelakang dan memasuki vagina. Telur didorong ke luar melalui vagina oleh kontraksi otot-otot vagina dan abdomen. Proses peletakan telur (ovoposisi) memerlukan waktu beberapa menit. Vagina dikuakan melalui anus dan secara normal telur tidak bersentuhan dengan isi cloaca.

Kontraksi pengeluaran telur disebabkan oleh pengeluaran hormon arginin vasotocin, semacam hormon oxytocin pada unggas, dari sel-sel neurosekretoris pada hypothalamus, disimpan dan dilepaskan dari neurohypofise.

3.2.2 SAPI

3.2.2.1. ALAT KELAMIN JANTAN

Secara anatomik, alat kelamin jantan dapat dibagi menjadi 3 bagian besar, yaitu : a.  Gonad atau testes merupakan bagian alat kelamin yang utama.

b. Saluran-saluran reproduksi terdiri dari: epididimis, vas deferens dan urethra; sedang kelenjar-kelenjar mani terdiri atas : kelenjar vesikularis, kelenjar prostat dan kelenjar bulbouretralis atau kelenjar cowper.

c. Alat kelamin  luar, yaitu : penis yang merupakan alat kopulasi dan penyalur mani dan urine, dan alat pelindung yang terdiri dari skrotum dan preputium.

Testes, terdapat sepasang, bentuk bulat panjang, terletak di dalam kantong yaitu skrotum. Tetes terbungkus oleh beberapa lapisan, yaitu tunica dartos, tunica vaginalis komunis dan tunica albugenia. Tunica albugenia berwarna putih mengkilap yang mengandung urat saraf dan  pembuluh darah yang berkelok-kelok. Berat testes tergantung pada umur, jenis sapi dan kondisi makanan.

Fungsi Testes :

  1. Reproduktif, yaitu menghasilkan spermatozoa dari tubulus seminiferus. Pada tubulus seminiferus terjadi proses spermatogenesis yang melalui 2 tahap, yaitu :
    1. Spermatositogenesis, yaitu pembentukan spermatogonia menjadi spermatid yang dikontrol oleh hormon FSH.
    2. Spermiogenesis, yaitu spermatid menjadi spermatozoa yang dikontrol oleh hormon LH.
  2. Endokrinologi, yaitu menghasilkan hormon testosteron.

Epitel benih terdiri atas 2 macam sel, yaitu spermatogonium dan sel-sel sertoli. Sel sertoli berbentuk panjang, berfungsi merawat sel spermatozoa. Sel-sel interstitial adalah sel yang terdapat di antara lobus-lobus. Sel berbentuk polygonal yang disebut sel leydig, berfungsi penghasil hormon jantan. Produksi sel sperma tergantung juga dari kondisi makanan.

Gambar 3.8: Struktur Testis

Epididimis, dapat dibedakan menjadi 3 daerah, yaitu :

  1. Caput : daerah kepala atau pangkal, tempat bermuara ductus efferent.
  2. Corpus, yaitu bagian tengah
  3. Cauda, yaitu bagian ekor atau ujujng, bertemu dengan vas deferent.

Epididimis adalah daerah tempat pematangan dan penyimpanan spermatozoa. Pada epididimis spermatozoa mengalami perlakuan, yaitu cairannya diserap dan diganti dengan cairan epididimis, kemudian spermatozoa ditimbun dibagian cauda. Jadi fungsi epididimis adalah sebagai transportasi, konsentrasi, pendewasaan dan timbunan spermatozoa.

Transportasi, masa spermatozoa dialirkan dari rete testes ke dalam duktuli efferens oleh tekanan cairan dan jumlah spermatozoa dalam testes yang secra tetap bertambah banyak. Dalam duktuli efferent aliran masa spermatozoa juga dibantu oleh gerakan silia. Sesampainya duktus epididimis masa spermatozoa lebih lambat alirannya karena lumen duktus lebih luas.

Konsentrasi,  dalam duktus epididimis cairan testes menjadi masa spermatozoa, airnya diserap oleh epitel dinding epididimis. Sesampainya di bagian ekor konsentrasi sperma menjadi sangat tingggi, 4 juta atau lebih per mm 3. Karena serapan cairan maka terjadi tekanan negatif dalam epididmis. Tekanan negatif ini merupakan isapan bagi masa spermatozoa dalam testes untuk masuk ke dalam epididimis.

Pemasakan atau pendewasaan, spermatozoa sewaktu meninggalkan tubulu seminiferus mempunyai butiran sitoplasma yang membalut bagian leher. Ini suatu tanda bahwa sperma masih muda. Dalam perjalanannya melalui duktus epididimis, butiran sitoplasma bermigrasi ke bagian ekor, sampai akhirnya terlepas sama sekali dari ekornya. Pemasakan ini disebabkan oleh adanya sekresi dari sel-sel epitel di duktus epididimis.

Timbunan, bagian ekor merupakan tempat penimbunan sperma yang utama, karena di sini keadaannya cocok untuk penghidupan spermatozoa yang masih belum bergerak. Hampir 50 % dari jumlah spermatozoa terdapat di bagian ekor. Kalau bagian ujung ekor duktus epididimis diikat maka timbunan sperma dalam duktus epididimis dapat bertahan di tempat tersebut sampai 60 hari dengan keadaan baik, masih hidup dan tetap fertil.

Skrotum, adalah pelindung testes baik secara mekanik maupun termis. Bila suhu panas maka skrotum akan mengendor, sehingga permukaannya akan meluas dan penguapannya akan tinggi.  Skrotum menjaga agar suhu di dalam etstes tetap bertemperatur 4 ° sampai 7° lebih rendah dari temperatur tubuh.  Mekanisme dari system thermoregulator ini dkerjakan oleh 2 muskulus, yaitu muskulus kremaster externa dan interna dan juga tunika dartos. Kedua muskulus kremaster dapat menarik testes ke atas mendekati ruang perut untuk mendapat pemanasan. Pada keadaan panas kedua muskulus kremaster merelaks dan testes turun menjauhi ruang perut. Demikian juga tunika dartos akan mengerut bila udara dingin. Akibatnya skrotum mengkerut, dan memaksa testes naik ke atas mendekati ruang perut.

Vas deferent, sebuah saluran yang berjalan dari bagian bawah epididmis. Naik di belakang testes masuk ke funikulus spermatikus dan mencapai rongga abdomen melalui saluran inguinal dan akhirnya berjalan masuk ke dalam pelvis. Berlumen lebih besar dan berdinding lebih tebal daripada saluran sebelumnya. Lapisan terdalam disebut lapisan mukosa yang membentuk lipatan longitudinal. Terdiri dari sel epitel beberapa lapis. Yang paling dalam, ke lumen, bentuk batang dan berstereocilia. Lamina propia, jaringan ikat di bawah mukosa, mengandung jalinan serat elastis.

Vesika seminalis, terdapat sepasang, panjang 15 cm. Semacam kantong yang memilki percabangan berupa kantong kecil ke samping. Fungsi vesikula seminalis : mensekresikan bahan-bahan mucus yang mengandung fruktosa dan bahan nutrisi lain, juga prostaglandin dan fibrinogen dalam jumlah yang banyak.

Protata, kelenjar yang mensekresikan cairan encer, seperti susu, bersifat asam yang mengandung asam sitrat, kalsium, asam fosfat, enzim pembeku dan profibrinolisin.

Bulbourethralis atau cowper, terletak di belakang urethra sebelum penis. Lapisan mukosa mengandung kelenjar tubulo alveolar, diselaputi jaringan otot polos dan otot lurik dan terluar adalah jaringan ikat. Yang disekresikan oleh kelenjar ini adalah lendir, dikeluarkan ketika ejakulasi.

Penis, adalah genetalia luar untuk menyalurkan semesn ke dalam tubuh betina. Terdiri dari 3 batang silinder jaringan yang erektif (dapat berereksi), yaitu 2 batang corpora cavernosa sebelah atas, 1 batang corpus spongiosum.

Mekanisme ejakulasi, di bagian pangkal urethra, yaitu urat daging licin dan dindingnya meluas, bermuara  ke kelenjar-kelenjar vesikularis, prostata dan ampula dari vas deferens.

Sebelum kopulasi, masa sperma yng berkonsentrasi tinggi serta non motil dikeluarkan oleh ampula ke pangkal urethra yang meluas. Pada waktu yang sama keluar pula sekresi kelenjar-kelenjar vesikularis dan prostata, bercampur di bagian yang meluas dari urethra itu.  Muara kandung urine tertutup, yaitu sebelum sperma dan sekresi-sekresi kelenjar vesikularis dan prostata masuk ke urethra. Tertutupnya kandung urine karena jaringan penuh dengan pembuluh-pembuluh darah yang disebut caver nosus.

Kelenjar cowper yang bermuara paling kaudal dari bagian urethra yang meluas itu, bertugas membersihkan urethra dari sisa-sisa urine. pH sekresinya bersifat basa 7,5 – 8,2 yang perlu untuk menetralkan sisa-sisa urine di sepanjang urethra. Cara berkontraksi dari pangkal urethra sangat mendadak sehingga sekresinya keluar memancar.

Pada sapi sekresi kelenjar cowper terlihat menetes sebelum kopulasi. Bila ujung penis telah menyentuh mukosa vagina, maka dengan cepat penis itu menjulur panjang dan disertai dorongan kontraksi urat-urat daging pinggang dan punggung, penis meluncur ke dalam vagina, sampai ke mulut cervix bagian caudal. Maka muskulatur dinding pangkal urethra berkontraksi dan menyebabkan terpencarnya semen ke dalam portio vaginalis services atau ke dalam lumen serviks.  Setelah terpancarnya semen, penis segera mengendur, relax dan ditarik keluar. Saat masuknya penis, terpancarnya semen dan keluarnya penis dari vagina diperkirakan kurang dari 5 detik.

3.2.2.2. ALAT KELAMIN BETINA

Secara anatomik, alat kelamin betina dapat dibedakan menjadi 3 bagian besar, yaitu :

  1. Gonad atau ovarium, merupakan bagian alat kelamin yang utama, ovarium menghasilkan sel telur.
  2. Saluran-saluran reproduksi betina terbagi menjadi : oviduct atau tuba fallopii, uterus yang terbagi atas : kornua uteri dan korpus uteri, servik dan vagina.
  3. Alat kelamin bagian luar, terdiri atas, klitoris dan vulva.

Ovarium, homolog dengan testes, terdapat sepasang. Tersusun dari kortek dan medula. Pada kortek terdapat bermacam-macam folikel mulai dari primordial folikel, folikel primer, folikel sekunder, folikel tertier dan folikel de graaf dan corpus luteum

Folikel primer, berasal dari satu sel epitel benih yang membelah diri. Pertumbuhan yang terjadi pada waktu hewan betina masih dalam kandungan dan setelah lahir. Jadi hewan beina yang baru lahir hanya mempunyai folikel primer, walaupun folikel sekunder, juga sudah diketemukan. Folikel primer berada langsung di bawah kulit ovarium yang tipis, yang disebut tunika albuginea. Ova pada folikel primer tidak terbungkus oleh membran vitelline.

Folikel sekunder, pertumbuhan folikel primer menjadi folikel sekunder terjadi pada waktu hewan betina telah lahir dan menjalani proses pendewasaan tubuh. Folikel sekunder bentuknya lebih besar dari folikel primer, karena jumlah sel-sel granulosanya juga lebih banyak, terletak agak jauh dari permukaan ovarium. Ovumnya telah mempunyai pembungkus tipis yang disebut membran vitelline. Juga sudah terdapat membran yang paling luar, yaitu zona pellucida.

Folikel tertier, yaitu folikel sekunder yang telah tumbuh lebih dewasa, dimana sel-sel granulosenya telah banyak, hingga seluruh folikel tampak lebih besar dan letaknya lebih jauh dari kulit ovarium. Juga sudah diketemukan adanya antrum, yang berisi cairan folikel.

Folikel de graaf,  pertumbuhan folikel tertier menjadi folikel de graaf pada saat hewan tersbut mengalami siklus berahi. Dalam folikel de graaf , ovum atau sel telur terbungkus oleh masa sel yang disebut cumulus oophorus.  Komponen lain dari folikel de graaf adalah sel-sel granulose. Sel-sel ini melapisi dinding antrum, juga menjadi cumulus oophorus, masa sel granulose yang membungkus sel telur dan terletak paling dekat dengan telur, disebut corona radiata.

Suatu ovarium selalu mempunyai folikel-folikel yang berdegenerasi, artinya tidak berhasil menjadi folikel de graaf. Folikel atresi, adalah folikel tertier yang besar dan hampir menjdi folikel de graaf atau telah menjadi folikel de graaf tetapi tidak berhasil pecah pada waktu ovulasi. Ovulasi, adalah pecahnya folikel de graaf, mula-mula dinding folikel retak pada bagian stigmanya, yaitu suatu tempat di bagian permukaan folikel yang menonjol keluar dari bagian badan ovarium, lalu cairan folikel meleleh keluar. Bersama keluarnya cairan folikel inilah ovum keluar, fimbriae yaitu bagian ujung saluran reproduksi betina yang berbentuk corong telah siap sedia menangkapnya.

Korpus luteum, setelah ovulasi, terjadilah kawah pada permukaan ovarium. Kawah ini adalah folikel yang telah melepaskan isinya, yang kemudian terisi darah dan cairan limfe. Pada waktu darah dan limfe tertimbun dalam kawah, hewan betina tidak lagi berahi, fase ini dalam siklus berahi disebut fase luteal. Dalam fase luteal lambat laun darah yang membeku dalam kawah diresorbsi dan luetinisasi mulai. Luteinisasi adalah proses pembentukan corpus luteum oleh sel-sel granulose dan sel theca.

Pengecilan corpus luteum , disertai munculnya sel-sel tenunan pengikat, lemak dan struktur semacam hyaline diantara sel-sel luteum. Hal ini mempercepat regresi sel luteum, hingga akhirnya berubah menjadi jaringan parut berwarna coklat kepucat-pucatan atau coklat keputih-putihan, yang disebut corpus albicans.

Corpus albicans tidak mempunyai peranan dalam proses reproduksi, sebaliknya corpus luteum memegang peranan sangat penting dalam proses-proses reproduksi. Dalam ilmu reproduksi dikenal 3 macam corpus luteum , yaitu :

  1. Corpus luteum periodikum, corpus luteum yang tumbuh dan beregresi dalam siklus berahi.
  2. Corpus luteum graviditatum, corpus luteum yang menyertai kebuntingan, berfungsi merawat kebuntingan dengan progesteronnya.
  3. Corpus luteum persisten, corpus luteum yang merupakan gangguan terhadap siklus berahi. Hwean betina tidak berahi, meskipun tidak bunting.

Ovarium sapi, berbentuk oval, besarnya sebesar biji kacang tanah, diameternya 0,75 cm sampai 5 cm. Ovarium kanan umumnya lebih besar dari  yang kiri, hal ini disebabkan karena fisiologik ovarium kanan lebih aktif dari yang kiri.

Letak ovarium seringkali di tepi sebelah cranial dari ligamentum penggantungnya yaitu ligamentum utero-ovarica. Pada umumnya ovarium diselaputi kantong yang disebut bursa ovarica, yaitu kantong yang dibentuk oleh ligementum utero ovarica dan mesovarium. Fungsi ovarium itu sendiri, yaitu sebagai alat reproduktif dan sebagai endokrinologi.

Oviduct atau tuba fallopii, saluran yang menghubungkan ovarium dan uterus, jumlahnya sepasang, panjangnya 20-25 cm. Secara embriologik, oviduct berasal dari saluran Muller. Bentuknya bulat, kecil, panjang, berkelok-kelok, ukuran panjang dan kelok-keloknya berlain-lainan pada berbagai jenis hewan. Ujung tuba fallopii berada dekat ovarium berbentuk corong dengan bibir yang tidak teratur dan berjumbai-jumbai, disebut fimbrae. Fungsi oviduct, yaitu :

  1. menerima sel telur yang diovulasikan
  2. menerima sel spermatozoa
  3. tempat fertilisasi
  4. menyalurkan sel telur yang telah dibuahi.

Uterus, dapat dibedakan menjadi 3 bagian, yaitu :

  1. fundus, yang bermuara di tuba
  2. corpus, yaitu bagian atas, pada sapi kira-kira 2,5 – 4 cm
  3. cervix, yaitu bagian bawah yang bulat.

Dinding uterus, terdiri dari 3 lapisan, yaitu endometrium mukosa, sebagai tempat nidasi serta untuk membina plasenta; myometrium , tersusun dari otot polos; serosa, terusan peritoneum.

Pada hewan memamah biak, permukaan uterus menonjol pada tonjolan inilah plasenta bertaut. Tonjolan endometrium, disebut cotyledone.

Servik, mukosanya bergelang-gelang, fungsinya untuk menutup lumen uterus. Pada dinding lekukan mempunyai banyak sel-sel sekretoris untuk menseleksi spermatozoa.

Vagina, saluran terdepan antara vestibule genetalia luar dan servik. Terdiri dari 3 lapisan dinding, yaitu mukosa, otot polos dan jaringan ikat.

Klitoris, embriologik homolog dengan penis, sedang vulva homolog dengan skrotum. Pada permukaan vulva terdapat banyak kelenjar sebaseus. Pada semua alat kelamin bagian luar, yaitu klitoris dan vulva mempunyai banyak ujung-ujung syaraf perasa. Syaraf perasa ini memegang peranan penting pada waktu kopulasi, klitoris dapat sedikit berereksi karena mengandung sepasang unsure cavernus yang kecil, sedang vulva dapat menjadi tegang karena bertambahnya volume darah yang mengalir ke dalamnya.

3.2.3 KUDA

Anatomi alat kelamin jantan sama dengan alat kelamin sapi, bedanya : Testes menurun ke dalam scrotum pada umur 2 sampai 3 minggu; dalam beberapa hal testes sudah berada di dalam scrotum pada waktu lahir. Pertumbuhan  testes postnatal dimulai selama bulan ke-11. Umumnya  testis kiri berkembang lebih cepat daripada testis kanan. Pada umur satu tahun, sperma untuk pertama kali dihasilkan dalam testes. Kuda jantan baru mencapai pubertas pada umur 2 tahun dan memperlihatkan keinginan yang intensif apabila didekatkan ke kuda betina yang berahi. Namun demikian kuda jantan baru dikawinkan setelah mencapai umur 3 – 4 tahun.

Mekanisme ejakulasi berbeda dengan sapi, pada kuda memakan waktu sampai kurang lebih 15 menit. Hal tersebut untuk pengumpulan semen.

Anatomi alat kelamin betina sama dengan alat kelamin sapi, bedanya : ovarium kuda berbentuk ginjal dan lebih besar daripada ovarium ternak mamalia yang lain. Ovarium kiri cenderung untuk lebih aktif daripada yang kanan. Frekuensi ovulasi ganda berkisar antara 3 samapai 30 % tergantung pada bangsa dan musim, jarang pada bangsa pony.

3.2.2.3. PERBANDINGAN ANATOMI ALAT KELAMIN JANTAN DAN BETINA

Gambar 3.9: Diagram perbandingan anatomi alat kelamin betina

Gambar 3.10: Diagram perbandingan anatomi alat kelamin jantan

BAB IV

FAKTOR-FAKTOR REPRODUKSI

4.1  Faktor yang berpengaruh terhadap aktivitas testes

Kebanyakan testes mamalia ada di dalam scrotum dan apabila terjadi abnormalitas, testes tetap ada dalam rongga badan. Dalam keadaan itu produksi spermatozoa gagal akan tetapi kelakuan seksual tetap biasa. Temperatur tubuh interstitial tetap tidak kena pengaruh temperatur tubuh. Percobaan telah dilakukan pada marmut yang diambil scrotumnya dan testes masuk ke dalam rongga badan maka terjadi degerasi dari tubulus seminiferus akan tetapi sel-sel interstitial masih tetap. Pada domba dilakukan hal yang sama. Scrotum sebagai pengatur temperatur untuk menghasilkan spermatogenesis.

Makanan juga berpengaruh terhadap aktivitas testes. Vitamin B 1 adalah essensial untuk perkembangan tubulus seminiferus pada burung dara. Kekurangan vitamin A dan E menyebabkan degenerasi tubulus seminiferus, sedang Vitamin B kompleks penting untuk mempertahankan saluran kelamin dan kelenjar. Kekurangan vitamin C tidak menyebabkan kemunduran testes secara langsung.

Rangsang cahaya yang masuk mata melalui syaraf dapat masuk hypofisa mengakibatkan bertambahnya kuantitas secresi gonadotropin. Hasil percobaan menunjukkan spectrum cahaya hijau menghambat aktivitas testes. Namun cahaya merah dan putih dapat menaikkan fungsi reproduksi. Penambahan cahaya listrik pada tiap hari juga menyebabkan bertambahnya berat testes dan musim kawin dapat dibuat secara buatan. Kebiasaan burung musim kawinnya pada musim semi akan tetapi dengan penambahan cahaya tersebut dapat mengadakan perkawinan pada musim dingin. Temperatur tidak begitu berakibat pada burung. Pada katak berekor membutuhkan sekali temperatur untuk aktifitas spermatogenesis/ Pada musim panas binatang itu aktif  reproduksi sel kelamin jantan akan tetapi bila diberi temperatur lingkungan 8 – 12 derajat spermatogenesis jadi terhambat. Bagi binatang yang masa kelaminnya musiman, sekresi gonadotropin itu yang berperanan penting untuk aktivitas reproduksi.

Kontrol hypofisa, percobaan telah banyak dilakukan dengan mengambil atau merusak hypofisa pada beberapa binatang menyebabkan kemunduran alat reproduksi.  Bila hypofisektomi pada musim kelamin maka binatang segera seperti tidak dalam musim kawin. Hormon dari lobus anterior hypofisa yang berperanan yaitu FSH mempengaruhi perkembangan tubulus seminiferus dan LH menyebabkan perkembangan saluran kelamin jantan dan sel-sel interstitial. Oleh beberapa penyelidik, LH untuk menyatakan dalam hal yang sama dengan ICSH. Injeksi FSH dalam dosis kecil pada tikus yang diambil hypofisanya menyebabkan spermatogenesis. Injeksi LH dengan dosis kecil juga menunjukkan gejala yang serupa akan tetapi perkembangan sel interstitial dan saluran kelamin jantan. Injeksi LH dengan dosis besar menyebabkan sel-sel interstitial berkembang dan hypertropi saluran kelamin jantan. Perubahan spermatid menjadi spermatozoa dibawah pengaruh sel sertoli, sedang terlepasnya spermatozoa dari sel tersebut karena pengaruh LH. FSH dan LH bekerja sama dalam menormalkan aktifitas testes tikus yang dihypofisektomi.

4.2  FAKTOR YANG MEMPENGARUHI OVARIUM

Kekurangan makan pada binatang betina muda menyebabkan atrophi ovarium. Folikel muda masih dapat berkembang akan tetapi tidak pernah sampai masak. Kekurangan vitamin pada betina dewasa menyebabkan degenerasi ovarium dengan tanda-tanda folikel mulai atresia. Saluran kelamin juga mengikuti akibat secara tidak langsung. Ovarium menderita akibat lebih dahulu kemudian karena tidak mengeluarkan hormon sex sekundair maka saluran kelamin kena akibatnya. Defisiensi vitamin A menyebabkan degenerasi saluran kelamin betina. Kekurangan vitamin B pada kera, kelinci dan tikus menyebabkan atropi ovarium dan saluran kelamin betina. Defisiensi vitamin C menyebabkan kemunduran pada akhir perkembangan folikel. Defisiensi vitamin E menyebabkan resorbsi embryo, akan tetapi tidak berpengaruh pada perkembangan ovarium tikus.

Kontrol hypofisa, sekresi FSH dari lobus anterior hypofisa menyebabkan pertumbuhan folikel. Faktor itu dibantu oleh LH yang menyebabkan perkembangan jaringan interstitial menghasilkan estrogen. Sekresi estrogen bertambah dan memuncak maka terjadi ovulasi. Korpus luteum mengahsilkan progesterone dibawah pengaruh LTH. Kenaikan kadar estrogen dalam darah menghambat sekresi FSH, bersama sekresi progesterone dalam jumlah kecil dan kenaikan jumlah skeresi LH dari hypofisa. Kemudian sekresi FSH dan LH dalam perbandingan tertentu diikuti oleh sekresi LTH dari lobus anterior hypofisa. Kenaikan jumlah sekresi LH menyebabkan ovulasi dan luteinisasi pada sel folikel. Sel folikel jadi korpus luteum dan LTH menyebabkan sekresi progesterone bertambah banyak. Apabila terjadi ulangan siklus atau tidak terjadi fertilitas, diperkirakan terjadi penurunan kadar estrogen dalam darah setelah ovulasi menghambatkan sekresi LH sehingga FSH naik lagi untuk mengulangi pembentukan folikel yang baru dalam siklus berikutnya.

4.3 HORMON-HORMON REPRODUKSI MAMALIA

Suatu asumsi bahwa reproduksi merupakan fungsi fisiologi yang terpenting dan bahwa keanekaragaman akan memberikan kesempatan yang maksimal berhasil dalam kompetisi antar spesies tidak dapat dipertahankan lagi. Tidak satupun mekanisme reproduksi memberikan keuntungan kepada yang lain, semua spesies termasuk platipus yang primitif dan didelfia, keduanya sama-sama berhasil dalam mempertahankan diri selama berabad-abad. Lagipula sistem fisiologi yang iain sama pentingnya untuk pertahanan hidup spesies; seperti ketimpangan sistem sirkulasi dan digesti, misalnya, akan menyebabkan tidak memungkinkan anggota spesies muda mencapai umur reproduksi.

Kedua jenis seks yang berperan pada reproduksi diesius memiliki spesialisasi yang tinggi. Derajat spesialisasi ini merupakan akibat sinkronisasi peristiwa reproduksi yang kompleks, yang pada umumnya mengikuti suatu pola yang sangat teratur yang dapat diketahui sebelumnya. Secara terinci pola-pola ini berbeda pada berbagai spesies. Peristiwa-peristiwa reproduksi di atas ternyata diatur oleh sistem hormon yang kompleks yang saling berkaitan, dan masih terkait pada sistem kontrol syaraf.

Bagian-bagian yang mengendalikan sistem reproduksi adalah kelenjar-kelenjar endokrin melalui hormon-hormon yang disekresi oleh kelenjar-kelenjar tadi yang melalui organ-organ akhir (seperti: ovarium dan uterus) yang dipengaruhi oleh hormon-hormon tersebut, dan dalam keadaan tertentu, juga sistem syaraf.

Dalam tubuh hewan terdapat bermacam- macam kelenjar, yaitu kelenjar eksokrin dan kelenjar endokrin. Kelenjar eksokrin, adalah kelenjar yang menghasilkan bahan biologis, dikeluarkan melalui suatu saluran dalam jumlah yang cukup banyak, misalnya : enzim.  Kelenjar endokrin (kelenjar yang tidak mempunyai saluran) dapat didefinisikan sebagai kelompok sel-sel khusus, yang mempunyai fungsi utama membentuk dan menyusun substansi kimia (bahan biologis), yang disebut hormon, disekresikan langsung ke dalam aliran darah atau limpa (getah bening) dalam jumlah yang sedikit. Hormon-hormon disebut juga aktivator jarak jauh, dapat didefinisikan sebagai substansi yang dibuat oleh kelenjar-kelenjar endokrin yang terletak pada suatu bagian dari tubuh dan dibawa oleh darah atau limpa ke bagian tubuh yang lain; dimana hormon-hormon tersebut  memodifikasi keadaan genetis tertentu organ-organ akhir. Spesifikasi “keadaan genetis” dan “organ akhir”  penting, karena semua hormon memiliki pengaruh yang sangat spesifik dan sangat selektif. Banyak hormon-hormon yang menyebabkan pertumbuhan; tetapi estrogen menyebabkan uterus dan tidak pertumbuhan jengger, androgen menyebabkan pertumbuhan jengger, tetapi tidak untuk pertumbuhan ovarium; hormon pertumbuhan menyebabkan perutmbuhan tubuh secara umum, tetapi tidak untuk pertumbuhan uterus, jengger dan ovarium.

Fungsi hormon reproduksi : gonadotropin targetnya ovarium dan testes; non gonadotropin untuk perkembangan saluran alat kelamin dan ambing.

4.3.1 SUMBER, FUNGSI DAN MACAM HORMON

Fungsi Kelenjar Endokrin :

  1. memelihara keseimbangan tubuh
  2. mempunyai peran dalam menghadapi perubahan tubuh yang jelek, yaitu untuk memberi respon yang cepat
  3. berperan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan.

Fungsi Hormon :

  1. sebagai katalisator
  2. mengatur permeabilitas permukaan dinding sel
  3. mempunyai pengaruh terhadap aktifitas gen tertentu
  4. mendorong sintesa protein.

Menurut struktur kimiawi, hormon dibedakan menjadi :

  1. Hormon steroid, golongan ini mempunyai struktur kimia yang mirip dengan kolesterol dan sebagian besar tipe ini berasal dari kolesterol sendiri. Ada beberapa hormon steroid yang disekresikan oleh : a. Kortek adrenal (kortisol dan aldosteron), b. Ovarium (estrogen dan progesteron), c. Testis (testosteron), dan d. Plasenta ( estrogen dan progesteron).

Suatu senyawa yang kerangka dasarnya tersusun dari rangkaian empat cincin. Gambar 1, menunjukkan sistem cincin secara konvensional digambarkan; tiga cincin  yang berbentuk segienam diberi simbol A, B dan C, dan cincin yang berbentuk segilima disebut D. Tiap titik menggambarkan atom karbon, diberi nomor seperti terlihat dalam gambar; atom hidrogen yang menurut konvensi tidak digambar, berfungsi untuk melengkapi valensi carbon yang besarnya empat. Gugus metil timbul dari atom karbon 10 dan 13; sekali lagi menurut konvensi hidrogen tidak digambar, hanya digambarkan dengan garis tebal yang berasal dari atom carbon.  Rantai sisi berasal dari karbon 17 (C-17) dapat lebih kompleks daripada yang ditunjukkan pada gambar 1.

Gambar 4.1:  Konvensional sistem cincin steroid

Cara yang termudah untuk menggambarkan perbedaan relatif struktur hormon satu dengan yang lain dan dengan senyawa induk mereka berupa kolesterol, adalah dengan mempelajari rangkaian biosinteis, seperti pada gambar 3 dan 4. Asam Asetat, dalam bentuk asetil-CoA, adalah prekusor kolesterol dan hormon steroid. Mula-mula tiga molekul asetil-CoA mengalami kondensasi, dan tereduksi menjadi asam mevalonat, yang memilki enam atom karbon. Asam mevalonat mengalami fosforilasi dan dekarbosilasi untuk menghasilkan prekusor sterol terdekat (dan terpen lain), berupa isopentenil pirofosfat, yang memilki lima atom karbon. Tiga dari unit lima karbon ini mengalami kondensasi dan menghasilkan sebuah unit 15 karbon dan farnesil pirofosfat; persatuan dari dua molekul ini menghasilkan suatu unit 30 karbon, disebut skualen. Hidrokarbon ini menjadi siklis membentuk lanosterol, yang kehilangan tiga gugusan metil dan tereduksi menjadi kolesterol dengan 27 atom karbon. Pada gambar 3 karbon karbonil asetat ditandai dengan lingkaran terbuka, sehingga asal karbon dalam rangka steroid dapat dilacak. Gambar 4 menunjukkan bahwa hidrosilasi kolesterol mendahului pemecahan rantai sisi untuk membentuk senyawa C21 yang pertama pada rangkaian reaksi, yaitu pregnanolon. Oksidasi pregnanolon menghasilkan hormon pertama berupa progesteron pada C-17 mendahului pemecahan rantai sisi steroid C21 dan menghasilkan androgen yang merupakan senyawa C19. Testosteron adalah suatu androgen yang poten, dan androstennedion adalah suatu androgen yang lebih lemah yang sebagian besar hormon-hormon dihasilkan oleh testis, sedangkan dehidroepiandrosteron, yaitu suatu androgen yang sangat lemah dihasilkan dalam jumlah besar oleh kelenjar adrenal dalam bentuk sulfat. Aromatisasi cincin A dengan pemecahan gugusan metil pada C-10 menghasilkan estrogen. Hormon estradiol adalah estrogen yang terdapat secara alami paling poten dan sebagian besar merupakan produk ovarium.

Ovarium juga menghasilkan hormon testosteron dan androstennedion sebagai hasil intermediet sintesis estrogen, androgen secara normal pada betina hanya dihasilkan dalam jumlah kecil. Testis juga mampu menghasilkan estrogen, tetapi pada mamalia umumnya disekresikan dalam jumlah kecil. Eastrogen tidak dapat menghasilkan androgen, sedangkan androgen tidak dapat menghasilkan progestin. Satu-satunya reaksi yang reversibel adalah reaksi-reaksi yang dikatalisasi oleh enzim dehidrogenase, yaitu konversi dari androstenedion menjadi testosteron dan konversi estron menjadi estradiol.

Suatu keunikan dalam rangkaian biosintetik ini adalah progesteron direduksi pada C-20 di ovarium. Tikus, kelinci, domba, babi, dan wanita menghasilkan 20 a-hidrosipregnanon ( 20 a – dihidroprogesteron) dapat dihasilkan pada sapi. Beberapa spesies, misalnya kelinci, menghasilkan banyak 20

a-hidrosipregnanon sebagai umpan balik  ke hipotalamus untuk memacu puncak LH waktu ovulasi.

Gambar 4 : Biosintesis Hormon Steroid dari Kolesterol

Sifat hormon steroid, molekul kecil (BM beberapa ratus), larut dalam minyak, dalam sirkulasi darah terikat dengan molekul protein (globulin), paruh hidup 60 – 100 menit, efek biolos baik bila masuk ke dalam inti sel dan men

Gambar 4.2: Biosintesa Klesterol

  1. Hormon glikoprotein : FSH, LH, PMSG dan hCG.

Struktur glikoprotein dari FSH, LH, PMSG dan hCG memiliki banyak kesamaan kimia , masing-masing terdiri atas dua subunit yang secara kimia tidak sama, disebut rantai a dan b. Rantai a dan b pada LH paling berbeda, pada FSH paling mirip.  Tiap rantai memiliki aktivitas biologi yang kecil, tetapi bila keduanya dikombinasikan, aktivitas pulih kembali.

Semua glikoprotein pituitari memiliki berat molekul mendekati 28.000 dalton; tiap subunit separuh berat molekul senyawa induk. HCG tampaknya merupakan glikoprotein yang jauh lebih besar, dengan berat molekul kira-kira 45.000 dalton, tetapi mengandung lebih banyak residu gula dibandingkan dengan glokoprotein pituitari.

Sifat hormon glikoprotein, molekul besar (BM beberapa puluh ribu), larut dalam air, dalam sirkulasi darah terikat dengan plasma darah, paruh hidup 5 – 60 menit, reseptor ada dalam sitoplasma sel.

  1. Hormon peptida : GnRH, Oksitoksin, Vasopresin

Sifat hormon peptida, molekul kecil (2000-3000), larut dalam air, paruh hidup dalam plasma darah 1 minggu, dalam sirkulasi darah terikat dengan protein, reseptor terletak pada sel asidopil dan basopil dari kelenjar hipofisa anterior.

  1. Hormon  protein : LTH, GH

Terdiri dari atas rantai tunggal tersusun dari 200 asam amino dan memiliki berat molekul kira-kira 22.000 dalton.

4.3.1.1 Macam-macam hormon menurut asal :

1. Neurohormon, yaitu hormon yang disekresikan melalui syaraf, misal : oksitoksin, vasopresin.

  1. Parathormon, yaitu  hormon lokal, hormon yang mengatur jaringan atau organ yang sama dimana hormon tersebut berasal, misal: Prostaglandin.
  1. Fitohormon, yaitu hormon yang ada pada tumbuhan.
  2. Peromon, yaitu hormon yang berfungsi mempengaruhi syaraf penciuman, misal : pada golongan Insekta dan Invertebrata.

4.3.1.2 SIFAT HORMON

  1. Bekerja pada sel, jaringan,  dan organ sasaran
  2. Dilepas pada saat yang tepat dalam kadar yang tetap pada organ sasaran tertentu.
  3. Kesalahan dalam waktu pensekresian dan kadarnya, hormon dapat menyebabkan gangguan fisiologi tubuh.
  4. Hormon tidak mmepunyai aktifitas biologis bila jaringan atau sel sasaran tidak mempunyai reseptor yang cocok.
  5. Fungsi biologis hormon dalam tubuh dapat diubah oleh zat oto farmakologi yang selalu ada bersama-sama hormon tersebut.
  6. Hormon dapat mempengaruhi sistem syaraf (adrenalin dan asetilkolin).
  7. Hormon dapat bekerja bersama-sama syaraf mengatur fungsi organ tubuh, misal : testes dipengaruhi oleh medula spinalis.
  8. Satu hormon dapat bekerja lebih dari satu organ sasaran, misal : LTH bekerja pada organ sasaran ovarium dan testes.

4.3.1.3 HORMON REPRODUKSI

a. Hipotalamus               : GnRH

b.Hipofisa anterior         : LH, LTH, FSH

c. Hipofisa posterior       : Oksitoksin, vasopresin

d. Plasenta                     : PMSG, hCG

e. Ovarium                     : Estrogen, Progesteron, Relaksin

f. Testes                          : Testosteron

g. Uterus                        : Prostaglandin.

HORMON UTAMA PADA REPRODUKSI

Sumber Kelenjar Macam hormon Fungsi fisiologis
  1. Hipotalamus

2.Hipofisa anterior

3.Hipofisa  Posterior

4.Plasenta

5.Ovari

6.Testis

7. Uterus

Luteinzing hormone-releasing hormone (LH-RH).

Growth hormone-releasing hormone (GH-RH)

Growth hormone-inhibiting hormone (GH-LH)

Thyrotropin-releasing hormone (TRH)

Prolaktin-inhibiting faktor (PIF)

Corticotropin-releasing hormone (CRH)

Follicle-stimulating hormone(FSH)

Luteinizing hormone

(LH)

Prolaktin (PRL)

Oksitoksin

hCG

PMSG

Estrogen

Progesteron

Androgen

/ Testosteron

Relaksin

Prostaglandin

Stimulasi sekresi FSH dan LH

Stimulasi sekresi GH

Inhibit sekresi GH

Stimulasi sekresi thyroid dan prolaktin

Inhibit sekresi prolaktin

Stimulasi sekresi ACTH

Stimulasi pertumbuhan folikel, spermatogenesis, sekresi estrogen

Stimulasi ovulasi, fungsi korpus luteum, sekresi progesteron, estrogen dan androgen

Laktasi, stimulasi fungsi korpus luteum dan progesteron.

Stimulasi kontraksi uterus, partus dan transport sperma dan telur.

Sekresi pengeluaran air susu

Aktifitas LH

Aktifitas FSH

Tingkah laku seksual, stimulasi seks sekundair, kontraksi uterus, pertumbuhan kelenjar susu. Kontrol gonadotropin

Implantasi

Perkembangan kelenjar asesoris, seks sekundair, tingkah laku seks, spermatogenesis

Dilatasi servix

Kontraksi uterus dan luteolitik

Gambar 4.3 . Kontrol Hormonal Pada Hewan jantan

Gambar 4.4:. Kontrol Hormonal pada Hewan Betina

4.3.1.4 MEKANISME KERJA HORMON

Hormon endokrin hampir tidak pernah bekerja secara langsung pada sistem intraselular untuk mengatur berbagai reaksi kimia di dalam sel. Hormon  pertama kali berikatan dulu dengan reseptor hormon yang terdapat dipermukaan sel atau di dalam sel.  Reseptor hormon merupakan protein yang sangat besar, dan setiap sel biasanya mempunyai 2000 sampai 10.000 reseptor.

Setiap reseptor biasanya sangat spesifik untuk satu macam hormon, keadaan ini yang menentukan macam hormon yang akan bekerja pada suatu jaringan tertentu. Jaringan target yang terpengaruh oleh macam hormon adalah jaringan yang mempunyai reseptor yang spesifik.

Lokasi  reseptor berbagai macam hormon, adalah sebagai berikut :

  1. Di dalam membran. Membran reseptor sangat khusus untuk hormon golongan protein, peptida dan katekolamin (epinefrin dan norepinefrin)
  2. Di dalam inti. Reseptor untuk berbagai hormon steroid dapat dijumpai hampir semua di dalam inti sel.

Pada umumnya bahan pemancar ini akan berikatan dengan reseptor dan akan menyebabkan timbulnya perubahan pada molekul reseptor,dan molekul reseptor yang telah berubah ini nantinya akan mengubah permeabilitas membran terhadap satu atau lebih ion, terutama ion natrium, klorida, kalium dan kalsium. Beberapa dari hormon endokrin umum juga berfungsi melalui cara yang sama, contohnya efek epinefrin dan norepinefrin dalam mengubah permeabilitas membran pada jaringan target tertentu.

Selain efek yang jarang dan langsung dari reseptor hormon dalam mengubah permeabilitas membran, sebenarnya juga ada dua mekanisme umum yang sangat penting yang menyebabkan timbulnya sebagian besar fungsi hormon:

  1. mengaktifkan sistem siklik AMP dalam sel, yang selanjutnya akan mengaktifkan banyak fungsi intraselluler lain.
  2. mengaktifkan gen di dalam sel, yang menyebabkan timbulnya pembentukan protein intraselluler yang akan memicu timbulnya fungsi sel yang spesifik.

Gambar 4.5: Skema Mekanisme kerja hormon Protein

Gambar 4.6: Skema Kerja Hormon Steroid

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: